JAKARTA – Desain zebra cross menyerupai karakter Pac-Man muncul di beberapa titik Jakarta, memicu perbincangan publik. Aksi kreatif ini bukan sekadar estetika, melainkan protes halus masyarakat terhadap marka jalan yang pudar dan lamban ditangani pemerintah.
Ghiffari Adha, Sekretaris DPD Bintang Muda Indonesia (BMI) DKI Jakarta, menegaskan bahwa kreativitas ini adalah cermin aspirasi warga.
“Marka jalan yang hilang atau tidak jelas bukan masalah sepele! Kreativitas warga muncul karena kegagalan pemerintah merespon kebutuhan dasar masyarakat,” ujar Ghiffari, Rabu (1/4/2026).
Menurut Ghiffari, pemerintah, khususnya Dinas Bina Marga DKI Jakarta, harus mempercepat perbaikan dan pemeliharaan fasilitas publik, sehingga warga tidak perlu menunggu viralitas untuk didengar.
“Kami menuntut agar perbaikan dilakukan segera. Warga berhak merasa aman dan dilindungi di jalan raya, tanpa harus memaksakan kreativitas demi keselamatan mereka sendiri,” tambahnya.
Ghiffari juga menegaskan bahwa desain Pac-Man tidak perlu dihapus sepenuhnya.
“Desain ini bisa dijadikan marking kreatif yang menandai partisipasi warga dalam menjaga keselamatan jalan. Ini adalah alarm nyata bagi pemerintah agar lebih responsif,” katanya.
BMI menekankan bahwa kreativitas warga ini adalah cermin kegagalan sistem, bukan sekadar gimmick. Respons cepat pemerintah terhadap fasilitas publik adalah kewajiban, bukan pilihan.


