Oleh: Rio Irwansyah
Perayaan 25 tahun Partai Demokrat pada 9 September 2026 bukan sekadar perayaan bertambahnya usia sebuah partai politik. Seperempat abad perjalanan Demokrat merupakan momentum untuk melihat kembali apa yang telah dilakukan, sekaligus bertanya ke mana partai ini akan melangkah di tengah perubahan zaman dan dinamika politik yang semakin cepat.
Pidato Ketua Umum Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), dalam momentum HUT ke-25 memberikan pesan yang cukup jelas: politik tidak boleh berhenti pada perebutan kekuasaan, tetapi harus bermuara pada perbaikan kehidupan rakyat.
AHY menempatkan tiga agenda besar sebagai arah perjuangan Demokrat, yakni memajukan ekonomi, menegakkan keadilan, dan menjaga demokrasi. Tiga agenda tersebut menjadi penting karena merupakan pekerjaan yang tidak pernah selesai. Ekonomi harus terus diperbaiki, keadilan harus terus diperjuangkan, dan demokrasi harus terus dijaga.
Di sinilah usia 25 tahun Demokrat seharusnya tidak hanya dimaknai sebagai perjalanan sejarah, tetapi sebagai titik evaluasi sekaligus titik awal untuk menghadirkan energi baru.
Dan energi baru itu salah satunya datang dari generasi muda.
BMI dan Ruang Strategis Anak Muda
Kehadiran Bintang Muda Indonesia (BMI) sebagai organisasi sayap Partai Demokrat memiliki arti strategis dalam konteks tersebut.
Demokrat membutuhkan ruang yang mampu menerjemahkan gagasan besar partai ke dalam bahasa generasi muda.
Anak muda hari ini tidak cukup hanya diajak menjadi massa pendukung. Mereka perlu diberi ruang untuk berpikir, berorganisasi, menyampaikan gagasan, mengambil keputusan, dan pada akhirnya menjadi bagian dari proses kepemimpinan.
Karena itu, hadirnya BMI dalam berbagai momentum besar Demokrat, termasuk perayaan HUT ke-25, bukan semata-mata soal meramaikan acara. Lebih jauh dari itu, kehadiran BMI memperlihatkan bahwa partai membutuhkan generasi penerus yang sejak sekarang mulai disiapkan untuk mengisi ruang-ruang perjuangan politik.
Hal tersebut sejalan dengan perhatian Demokrat terhadap generasi muda. Bahkan sebelum HUT ke-25, AHY telah menekankan cita-cita menjadikan Demokrat sebagai Smart Party yang mampu hadir dan relevan bagi generasi milenial maupun Generasi Z.
Artinya, BMI mempunyai pekerjaan yang jauh lebih besar daripada sekadar menjadi pelengkap struktur organisasi. BMI harus menjadi laboratorium gagasan anak muda Demokrat.
Tempat di mana anak muda belajar memahami persoalan rakyat, membaca perubahan sosial, mengembangkan gagasan, membangun jejaring, sekaligus belajar bahwa politik bukan hanya tentang jabatan.
Dari Meramaikan Menjadi Menggerakkan
Ada perbedaan besar antara sekadar hadir dalam sebuah perayaan dengan menjadi bagian dari gerakan politik.
Jika BMI hanya hadir untuk meramaikan agenda seremonial, maka perannya akan berhenti ketika acara selesai. Tetapi apabila energi anak muda tersebut diterjemahkan menjadi kegiatan sosial, pendidikan politik, advokasi masyarakat, pengembangan ekonomi kreatif, lingkungan, digitalisasi, hingga penguatan UMKM, maka BMI dapat menjadi salah satu kekuatan penting Demokrat di masa depan. Di sinilah pesan AHY tentang kepercayaan rakyat menjadi relevan.
Kepercayaan tidak dapat diwariskan begitu saja. Ia harus dibangun melalui kerja nyata dan konsistensi. Dalam pidatonya, AHY menegaskan bahwa ukuran keberhasilan politik pada akhirnya adalah apakah kehidupan rakyat menjadi lebih baik.
Maka, tantangan BMI juga jelas: bagaimana menjadikan anak muda bukan sekadar objek politik, tetapi subjek yang ikut menentukan arah politik. Anak muda harus diberikan kesempatan untuk menjadi penggerak.
25 Tahun Adalah Modal, Bukan Garis Akhir
Partai Demokrat telah melewati perjalanan panjang sejak berdiri pada 2001. Dalam seperempat abad, partai ini telah mengalami berbagai fase politik: berada dalam pemerintahan, menjadi oposisi, hingga kembali menjadi bagian dari pemerintahan.
Pengalaman tersebut seharusnya menjadi modal untuk membangun Demokrat yang semakin matang, terbuka, adaptif dan dekat dengan rakyat. Namun, setiap generasi memiliki tantangannya sendiri.
Generasi pendiri dan senior Demokrat telah memberikan fondasi. Generasi berikutnya memiliki tugas untuk menjaga fondasi tersebut sekaligus memperbaruinya sesuai tuntutan zaman.
Di sinilah BMI mendapatkan relevansinya.
BMI harus mampu menjawab pertanyaan sederhana: seperti apa Demokrat di mata anak muda Indonesia 10, 20, bahkan 25 tahun ke depan?
Jawabannya tidak cukup dengan slogan.
Jawabannya harus terlihat dari kader muda yang kompeten, kritis tetapi santun, berani menyampaikan gagasan, dekat dengan masyarakat, memahami teknologi, serta memiliki kepedulian terhadap persoalan bangsa.
Menjaga Masa Depan Demokrat
HUT ke-25 Demokrat pada akhirnya bukan hanya tentang mengenang perjalanan masa lalu. Ia adalah tentang mempersiapkan masa depan.
Pidato AHY telah memberikan garis besar arah perjuangan: ekonomi, keadilan dan demokrasi. Kini tantangannya adalah bagaimana agenda tersebut diterjemahkan hingga ke tingkat akar rumput dan bagaimana generasi muda mengambil bagian di dalamnya. BMI dapat menjadi salah satu jembatan penting antara gagasan partai dengan dunia anak muda.
Sebab politik masa depan tidak hanya membutuhkan politisi yang berpengalaman. Politik masa depan membutuhkan generasi yang mampu memahami perubahan, beradaptasi dengan teknologi, mendengar suara masyarakat dan tetap memiliki keberanian untuk memperjuangkan kepentingan publik. Seperempat abad Demokrat harus menjadi momentum regenerasi.
Jika 25 tahun pertama adalah sejarah yang telah dibangun, maka 25 tahun berikutnya harus menjadi masa ketika generasi muda ikut menentukan sejarah baru.
Dan di situlah Bintang Muda Indonesia seharusnya mengambil tempat: bukan hanya sebagai sayap partai, tetapi sebagai ruang tumbuh, ruang belajar, ruang berkontribusi, dan ruang lahirnya pemimpin-pemimpin muda Partai Demokrat di masa depan.



