Jakarta, 21 April 2026 – Ini adalah kunjungan pertama Juan Pablo Sorin ke Jakarta. Namun cara ia menjalaninya terasa jauh dari sekadar perjalanan singkat seorang tamu.
Malam sebelumnya, Sorin baru saja menuntaskan perannya di lapangan. Bersama Barcelona Legends, ia tampil menghadapi DRX Worlds Legends dalam ajang Clash of Legends Jakarta 2026 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan.
Riuh penonton, atmosfer stadion, dan energi pertandingan seakan belum benar-benar
hilang. Namun alih-alih beristirahat, Sorin justru memilih melanjutkan petualangannya.
Keesokan harinya, dengan rasa penasaran yang masih menyala, legenda sepak bola 49
tahun itu bersemangat untuk ikut berkeliling Kota Jakarta. Bahkan ia meminta untuk diajak ke Kota Tua, kawasan yang ia dengar menyimpan banyak cerita sejarah Jakarta.
Sebelum tiba di Kota Tua, Sorin memulai perjalanannya dengan menyusuri jantung Jakarta dan menyambangi Monumen Nasional. Kemudian ia singgah di dua ikon religi: Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral Jakarta. Kedua bangunan megah itu berdiri berdampingan, sebuah pemandangan yang sederhana namun sarat makna.
Bagi Sorin, itu bukan sekadar arsitektur. Itu adalah symbol bahwa perbedaan bukan untuk dipertentangkan, melainkan dirayakan. Bahwa keberagaman bisa hidup berdampingan dalam harmoni.
Di Kota Tua, langkahnya melambat di depan deretan topeng kayu berwarna-warni. Ia
memperhatikan satu per satu, menyentuh teksturnya, lalu berbincang dengan perajin lokal tentang makna di balik setiap ukiran. Dinding toko yang penuh topeng itu seolah menjadi galeri hidup dan Sorin menikmatinya dengan rasa ingin tau yang besar.
Perjalanan berlanjut ke sudut lain. Rak-rak berisi wayang dan cenderamata tradisional
menarik perhatiannya. Ia berhenti lebih lama dari yang dijadwalkan, bertanya, mendengar, lalu tersenyum. Di tempat itu, ia bukan hanya melihat benda, tapi mencoba memahami cerita di baliknya.
Momen paling hangat justru hadir di ruang terbuka. Di antara keramaian Kota Tua, Sorin berjongkok di depan lapak sederhana yang menjual gelang handmade. Ia mendengarkan penjelasan penjual, sementara anak-anak dan warga mulai mendekat. Percakapan kecil, tawa ringan, dan interaksi tanpa jarak pun tercipta.
Hari itu, Jakarta tidak hanya menunjukkan wajah modernnya, tetapi juga memperlihatkan jiwanya melalui budaya, sejarah, dan kehangatan manusianya.
Bagi Sorin, kunjungan pertamanya ini bukan sekadar bagian dari rangkaian acara Clash of
Legends Jakarta 2026. Ia menjadi pengalaman personal, tentang menemukan kota, sekaligus merasakan nilai-nilai yang hidup di dalamnya.
“Saya sangat menikmati setiap momennya di sini. Bukan hanya tempatnya yang indah, tapi juga orang-orangnya yang hangat,
” ungkap pesepak bola asal Argentina tersebut.







